Langsung ke konten utama

KEPRIBADIAN

Ku berjalan menyusuri jalan. Setiap jalan yang aku lalui terasa basah. Aku seakan berjalan diatas tumpukan lumpur. Padahal aku hanay berjalan diatas rumput yang basah. Dan seperti biasa aku berjalan tanpa menghiraukannya. Aku terus berjalan hingga ada sebuah ruangan dihadapanku. Ruangan itu adalah ruangan kelasku. Ruangan itu jauh dari ruang tata ussaha. Jarak untuk keruang tata usaha jauh dari kelasku. Jarang ada keinginan untuk ke ruang tata usaha dengan jaraknya yang jauh dari kelasku. Aku memasuki ruangan kelasku. Aku menatap seluruh isi yang ada di ruangan ini. Semuanya sangat berantakan. Meja terbalik, kursi bercoretan dimana-mana dan papan yang sangat kotor karena tidak dihapus. Dan sampah banyak berserakan diruangan ini. Inilah kelasku. Suasana kelasku selalu seperti ini. Selalu berantakan. Tidak ada satupun yang ingin membersihkannya. Dan seperti biasa suara hentakan kaki itu terdengar. Suara kaki itu milik mereka yang selalu datang terburu-buru. Walaupun mereka terburu-buru, mereka tetap sempat untuk mengobrol di pagi hari. Itu sudah menjadi kebiasaan mereka. Itu sudah menjadi kewajiban bagi teman-teman kelasku. Disaat bel masuk berbunyi, mereka tetap mengobrol. Obrolan mereka akan berhanti ketika guru sudah masuk ke dalam kelas. Dan setiap guru wajib mengomeli kami. Alku sangat bosan mendengarkan omelan mereka. Karena apa yang menjadi topic mereka, adalah topic yang sering dibicarakan sehari-hari. Setiap guru yang mengomeli kami hampir setengah dari jam pelajaran yang harus nya full. Jika dipikirkan, kami telah mendapatkan jatah pelajaran yang kurang. Dan setiap guru akan mengatakan “kami sudah lelah mengingatkan kalian” kalimat itu selalu keluar dari mulut semua guru. Mereka merasa lelah untuk mengingatkan kami. Tapi mengapa mereka mengulangi kalimat tersebut. Tanpa mereka ucapkan, kami juga sudah mengetahuinya. Mereka saja yang mencari sensasi untuk mengulanginya. Aku sangat bosan dengan tingkah laku mereka. Aku merasa telah menjadi gila di dalam kelas.
Aku membenci seorang perempuan di kelas ini. Dia menganggap bahwa dirinyalah yang paling pintar. Dia tidak pernah memberikan kesempatan kepada teman-temannya untuk lebih baik dari dia. Dia juga merasa bahwa dirinyalah yang paling cantik dalam kelas ini. Dengan kepintaran dan kecantikan yang dia miliki hanya menumbuhkan rasa sombong dihatinya. Itulah yang menyebabkan aku sangat membencinya. Semua gayanya membuat aku rasanya ingin muntah. Bukan hanya aku saja yang membencinya. Tapi seisi kelas ini juga membenci perempuan itu. Siapa yang akan menyukai sosok seorang egois seperti dirinya? Banyak yang mengatakan bahwa dia sombong karena dapat mengalahkan kepintaranku. Apa yang mereka katakana? Aku tidak pernah beranggapan seperti itu! Apakah diriku ini pintar? Aku merasa bahwa diriku hanya sosok seorang yang pemalas, bosan hidup, suka menilai orang dan tak ingin tahu dengan kehidupan orang lain.
Kemudian, ada sosok seorang lelaki yang sangat aku kagumi. Laki-laki itu sangat luar biasa. Dia sama seperti aku. Tapi, yang membedakannya dan yang membuat aku kagum adalah cara dia menganalisis soal. Dia mampu mencerna soal yang diberikan oleh setiap guru. Aku selalu menahan diriku untuk bertanya kepadanya. Karena pertanyaan-pertanyaan yang menngelabuhi otakku telah membuat hatiku semakin diliputi oleh rasa penasaran. Sososk seorang lelaki seperti dia mampu membuat otakku berpikir dan terus berpikir dengan kenyataan yang aku lihat sekarang. Hidupnya sangat santai. Sama seperti kepribadianku. Yang menjadi pertanyaannya, kapan dia belajar? Sedang setiap waktunya tak ada satu buku pun yang dia genggam maupun dibaca. Lalu mengapa dia bisa sehebat itu? Jujur, dia membuat diriku kagum kepada dirinya. Bagiku, itu adalah kelebihan yang ada pada dirinya. Aku berpikir mungkin semua yang ada didunia ini memiliki kepribadian yang buruk. Tapi, bisa jadi dari kepribadiannya itu ada terselip kelebihan yang tak pernah diduga oleh sumua orang. Hidup itu penuh dengan isi. Entah itu kacau, bahagia, hancur, sedih, emosi dan lain sebagainya. Dan setiap orang tentu memiliki kepribadian yang berbeda-beda. Dan aku ingin sepeti dia. Meskipun kepribadianku mungkin buruk dimata orang lain, tapi aku yakin bahwa aku pasti memiliki kelebihan.
THE END
 By : Muniroh

Komentar

Postingan populer dari blog ini

STYLE

Seorang lelaki berjalan menyusuri jalan di tengah malam yang gelap. Dia hanya memiliki teman sang bulan. Gelapnya jalan tanpa lampu di sekelilingnya. Dia terus saja berjalan hingga tepat di sebuah rumah dia berhenti. Rumah itu sangat akrab bagi nya. Rumah yang dulu sering di kunjunginya. Dan sekarang rumah itu kembali dia datangi setelah tiada kabar mengenai dirinya. Rumah itu adalah rumah yang ditempati oleh kekasih nya. Tangannya mulai mengarah ke arah pintu itu. Suara ketukan mulai terdengar. Sesosok gadis membukakan pintu itu. Tampak sebuah kejutan yang ada. Raut muka gadis itu sangat terkejut. “ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Ikutlah denganku” “Apa yang sedang kau pikirkan? Aku sudah lama menunggumu. Dan kau tidak memberi sepatah kata kabarpun! Dan sekarang kau kembali dengan cara seperti ini. Sekarang apa mau mu? Apakah kau ingin mengatakan kalau dirimu telah memiliki wanita selain diriku di hatimu? Sudah cukup! Tidak ada yang perlu di jelaskan. Apa yang terakhi...

Dendamku

Dahulu kau jadikan aku seorang ratu Dan mengabulkan semua pintaku Seakan ada seseorang yang meramal kehidupanku Sebagai pertanda akhir dari cintaku Kepercayaan itu telah sirna Kau yang mendustakan segalanya Dan lebih memilih dirinya  Hingga kau buang aku jauh disana Kau larut dalam kata-katanya Seolah dirimu yang paling teraniaya Bahkan, kau tatap aku dengan penuh dendam Hingga tubuhku hancur dengan kata yang menghantam Dendamku lebih membara dari padamu Seekor anjing terlihat lebih baik darimu Sayangnya, buas singa saja kalah darimu Karena ikut hanyut dalam kekejamanmu Ada satu hal yang sudah kau lupakan Sekuat apapun dirimu Angin tidak akan pernah habis dimakan Karena aku bisa lebih kejam darimu

Berteman

Bertemanlah dengan siapapun Jangan menjadi orang yang pemilih Karena Bukan teman yang menjerumuskanmu ke hal yang negatif Melainkan Dirimu Yang tidak bisa menjaga diri Dan Karena setiap manusia memiliki sisi baik dan buruknya Jangan tutup matamu untuk melihat satu hal Tetapi buka matamu untuk melihat semua pengalaman Karena baik dan buruk itu adalah pelajaran untukmu Jangan pernah kau mencari teman karena jabatan, ketenaran dan kepintaran Karena dari ketiga golongan itu selalu memiliki keunikan tersendiri Kau akan menemukan arti bahagia, kehidupan dan kekejaman Maka tiga golongan itu tak layak untuk menjadi sebuah standar Jangan pernah Mencari teman yang setara denganmu Karena Suatu saat nanti kamu akan sadar dan menyesal Tentang teman terbaik yang telah kau buang