Ku berjalan menyusuri jalan. Setiap jalan yang
aku lalui terasa basah. Aku seakan berjalan diatas tumpukan lumpur. Padahal aku
hanay berjalan diatas rumput yang basah. Dan seperti biasa aku berjalan tanpa
menghiraukannya. Aku terus berjalan hingga ada sebuah ruangan dihadapanku.
Ruangan itu adalah ruangan kelasku. Ruangan itu jauh dari ruang tata ussaha.
Jarak untuk keruang tata usaha jauh dari kelasku. Jarang ada keinginan untuk ke
ruang tata usaha dengan jaraknya yang jauh dari kelasku. Aku memasuki ruangan
kelasku. Aku menatap seluruh isi yang ada di ruangan ini. Semuanya sangat
berantakan. Meja terbalik, kursi bercoretan dimana-mana dan papan yang sangat
kotor karena tidak dihapus. Dan sampah banyak berserakan diruangan ini. Inilah
kelasku. Suasana kelasku selalu seperti ini. Selalu berantakan. Tidak ada
satupun yang ingin membersihkannya. Dan seperti biasa suara hentakan kaki itu
terdengar. Suara kaki itu milik mereka yang selalu datang terburu-buru.
Walaupun mereka terburu-buru, mereka tetap sempat untuk mengobrol di pagi hari.
Itu sudah menjadi kebiasaan mereka. Itu sudah menjadi kewajiban bagi
teman-teman kelasku. Disaat bel masuk berbunyi, mereka tetap mengobrol. Obrolan
mereka akan berhanti ketika guru sudah masuk ke dalam kelas. Dan setiap guru
wajib mengomeli kami. Alku sangat bosan mendengarkan omelan mereka. Karena apa
yang menjadi topic mereka, adalah topic yang sering dibicarakan sehari-hari.
Setiap guru yang mengomeli kami hampir setengah dari jam pelajaran yang harus
nya full. Jika dipikirkan, kami telah mendapatkan jatah pelajaran yang kurang.
Dan setiap guru akan mengatakan “kami sudah lelah mengingatkan kalian” kalimat
itu selalu keluar dari mulut semua guru. Mereka merasa lelah untuk mengingatkan
kami. Tapi mengapa mereka mengulangi kalimat tersebut. Tanpa mereka ucapkan,
kami juga sudah mengetahuinya. Mereka saja yang mencari sensasi untuk
mengulanginya. Aku sangat bosan dengan tingkah laku mereka. Aku merasa telah
menjadi gila di dalam kelas.
Aku membenci seorang perempuan di kelas ini. Dia
menganggap bahwa dirinyalah yang paling pintar. Dia tidak pernah memberikan
kesempatan kepada teman-temannya untuk lebih baik dari dia. Dia juga merasa
bahwa dirinyalah yang paling cantik dalam kelas ini. Dengan kepintaran dan
kecantikan yang dia miliki hanya menumbuhkan rasa sombong dihatinya. Itulah yang
menyebabkan aku sangat membencinya. Semua gayanya membuat aku rasanya ingin
muntah. Bukan hanya aku saja yang membencinya. Tapi seisi kelas ini juga
membenci perempuan itu. Siapa yang akan menyukai sosok seorang egois seperti
dirinya? Banyak yang mengatakan bahwa dia sombong karena dapat mengalahkan
kepintaranku. Apa yang mereka katakana? Aku tidak pernah beranggapan seperti
itu! Apakah diriku ini pintar? Aku merasa bahwa diriku hanya sosok seorang yang
pemalas, bosan hidup, suka menilai orang dan tak ingin tahu dengan kehidupan
orang lain.
Kemudian, ada sosok seorang lelaki yang sangat
aku kagumi. Laki-laki itu sangat luar biasa. Dia sama seperti aku. Tapi, yang
membedakannya dan yang membuat aku kagum adalah cara dia menganalisis soal. Dia
mampu mencerna soal yang diberikan oleh setiap guru. Aku selalu menahan diriku
untuk bertanya kepadanya. Karena pertanyaan-pertanyaan yang menngelabuhi otakku
telah membuat hatiku semakin diliputi oleh rasa penasaran. Sososk seorang
lelaki seperti dia mampu membuat otakku berpikir dan terus berpikir dengan
kenyataan yang aku lihat sekarang. Hidupnya sangat santai. Sama seperti
kepribadianku. Yang menjadi pertanyaannya, kapan dia belajar? Sedang setiap
waktunya tak ada satu buku pun yang dia genggam maupun dibaca. Lalu mengapa dia
bisa sehebat itu? Jujur, dia membuat diriku kagum kepada dirinya. Bagiku, itu
adalah kelebihan yang ada pada dirinya. Aku berpikir mungkin semua yang ada
didunia ini memiliki kepribadian yang buruk. Tapi, bisa jadi dari
kepribadiannya itu ada terselip kelebihan yang tak pernah diduga oleh sumua
orang. Hidup itu penuh dengan isi. Entah itu kacau, bahagia, hancur, sedih,
emosi dan lain sebagainya. Dan setiap orang tentu memiliki kepribadian yang
berbeda-beda. Dan aku ingin sepeti dia. Meskipun kepribadianku mungkin buruk
dimata orang lain, tapi aku yakin bahwa aku pasti memiliki kelebihan.
THE
END
By : Muniroh
Komentar
Posting Komentar