Langsung ke konten utama

CINTA TERLARANG

Pertemuan bagian dari permainan
Canda adalah senjata
Senyuman sebagai pedang
Tatapan melumpuhkanku
Hari demi hari
Terasa baru saja terjadi
Dunia berguling
Tubuh membeku
Perasaan pun mati
Ladakan membangunkanku
Terbang pada kenyataan
Ayam dan angsa berbeda
Sulit untuk bertahan
Air mata membasahi tubuh
Takdir sulit dirubah
Api dan air sulit bersatu
Tulisan lenyap dalam sakit
Hati menangisi rasa
Dan inilah cinta terlarang

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dendamku

Dahulu kau jadikan aku seorang ratu Dan mengabulkan semua pintaku Seakan ada seseorang yang meramal kehidupanku Sebagai pertanda akhir dari cintaku Kepercayaan itu telah sirna Kau yang mendustakan segalanya Dan lebih memilih dirinya  Hingga kau buang aku jauh disana Kau larut dalam kata-katanya Seolah dirimu yang paling teraniaya Bahkan, kau tatap aku dengan penuh dendam Hingga tubuhku hancur dengan kata yang menghantam Dendamku lebih membara dari padamu Seekor anjing terlihat lebih baik darimu Sayangnya, buas singa saja kalah darimu Karena ikut hanyut dalam kekejamanmu Ada satu hal yang sudah kau lupakan Sekuat apapun dirimu Angin tidak akan pernah habis dimakan Karena aku bisa lebih kejam darimu

Berteman

Bertemanlah dengan siapapun Jangan menjadi orang yang pemilih Karena Bukan teman yang menjerumuskanmu ke hal yang negatif Melainkan Dirimu Yang tidak bisa menjaga diri Dan Karena setiap manusia memiliki sisi baik dan buruknya Jangan tutup matamu untuk melihat satu hal Tetapi buka matamu untuk melihat semua pengalaman Karena baik dan buruk itu adalah pelajaran untukmu Jangan pernah kau mencari teman karena jabatan, ketenaran dan kepintaran Karena dari ketiga golongan itu selalu memiliki keunikan tersendiri Kau akan menemukan arti bahagia, kehidupan dan kekejaman Maka tiga golongan itu tak layak untuk menjadi sebuah standar Jangan pernah Mencari teman yang setara denganmu Karena Suatu saat nanti kamu akan sadar dan menyesal Tentang teman terbaik yang telah kau buang

KEPRIBADIAN

Ku berjalan menyusuri jalan. Setiap jalan yang aku lalui terasa basah. Aku seakan berjalan diatas tumpukan lumpur. Padahal aku hanay berjalan diatas rumput yang basah. Dan seperti biasa aku berjalan tanpa menghiraukannya. Aku terus berjalan hingga ada sebuah ruangan dihadapanku. Ruangan itu adalah ruangan kelasku. Ruangan itu jauh dari ruang tata ussaha. Jarak untuk keruang tata usaha jauh dari kelasku. Jarang ada keinginan untuk ke ruang tata usaha dengan jaraknya yang jauh dari kelasku. Aku memasuki ruangan kelasku. Aku menatap seluruh isi yang ada di ruangan ini. Semuanya sangat berantakan. Meja terbalik, kursi bercoretan dimana-mana dan papan yang sangat kotor karena tidak dihapus. Dan sampah banyak berserakan diruangan ini. Inilah kelasku. Suasana kelasku selalu seperti ini. Selalu berantakan. Tidak ada satupun yang ingin membersihkannya. Dan seperti biasa suara hentakan kaki itu terdengar. Suara kaki itu milik mereka yang selalu datang terburu-buru. Walaupun mereka terburu-buru,...