Langsung ke konten utama

STYLE



Seorang lelaki berjalan menyusuri jalan di tengah malam yang gelap. Dia hanya memiliki teman sang bulan. Gelapnya jalan tanpa lampu di sekelilingnya. Dia terus saja berjalan hingga tepat di sebuah rumah dia berhenti. Rumah itu sangat akrab bagi nya. Rumah yang dulu sering di kunjunginya. Dan sekarang rumah itu kembali dia datangi setelah tiada kabar mengenai dirinya. Rumah itu adalah rumah yang ditempati oleh kekasih nya. Tangannya mulai mengarah ke arah pintu itu. Suara ketukan mulai terdengar. Sesosok gadis membukakan pintu itu. Tampak sebuah kejutan yang ada. Raut muka gadis itu sangat terkejut.

“ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Ikutlah denganku”
“Apa yang sedang kau pikirkan? Aku sudah lama menunggumu. Dan kau tidak memberi sepatah kata kabarpun! Dan sekarang kau kembali dengan cara seperti ini. Sekarang apa mau mu? Apakah kau ingin mengatakan kalau dirimu telah memiliki wanita selain diriku di hatimu? Sudah cukup! Tidak ada yang perlu di jelaskan. Apa yang terakhir kau kirim itu cukup membuatku tertawa. Hanya bisa tertawa melihat undangan pernikahan kekasihku dengan wanita lain. Aku tidak ingin ikut denganmu!”
“kumohon, ikutlah denganku. Aku hanya ingin menghabiskan waktuku hanya denganmu”

Tanpa mendengar sepatah kata yang akan di ucapkan gadis itu, laki-laki itu menarik tangannya. Gadis itu berusaha melepaskannya. Tetapi gadis itu tidak kuat untuk melepaskan pegangan dari lelaki itu. Gadis itu hanya bisa menyusuri jalan berdua dengan lelaki itu. Mereka terus berputar di jalan yang sama. Perjalanan mereka terhenti saat lelaki itu berhenti dan berbalik menghadap kepada gadis itu. Gadis itu yang berada di belakangnya terus berjalan dan tiba-tiba melihat mata lelaki itu. Kemudian dia melihat wajah wanita yang ada  dalam undangan itu. Undangan yang diberikan oleh lelaki itu. Hingga mereka saling bertabrakan. Dan kembali berjalan. Mereka tidak memperlihatkan rasa malu di raut wajah mereka. Karena mereka tidak pernah mati gaya. Begitu lah yang terjadi sampai lelaki itu mengantarkan gadis itu pulang ke rumahnya. Tatapan lelaki itu tidak bisa focus dengan jalannya. Dia melihat gadis itu kedinginan. Dia melepaskan jaket nya dan mengenakan pada gadis itu. Gadis itu mulai bertanya tentang undangan itu

“Mungkinkah undangan yang kau kirim itu hanya untuk membuatku berpikir bahwa kau mencintai wanita lain?”
Lelaki itu tidak menjawab pertanyaan dari gadis itu. Tetapi gadis itu tetap ingin bertanya.
“Mungkinkah kau sudah menjadi milik orang lain”

Gadis itu terlihat khawatir. Namun dia berusaha menutupi kekhawatirannya. Dia menunggu jawabannya. Percuma saja, lelaki itu tidak berbicara sepatah kata pun. Mereka berjalan tanpa ada percakapan diantara mereka. Keheningan malam membuat udara semakin dingin. Sesekali mereka bertatapan dan ingin memulai percakapan, tak ada yang berhasil. Kebohongan itu adalah gaya mereka untuk tetap saling mencintai. Karena cinta tidak harus memiliki. Tapi hal itu bukanlah melodrama di kehidupan mereka.

“Aku ingin kau hadir di acara pernikahanku”

Gadis itu menghentikan langkahnya. Dia terdiam membisu. Tubuhnya kaku seperti mayat. Dia melepaskan jaket yang di kenakan dan melemparkannya ke arah lelaki itu.

“Aku tidak menyangka, kau benar-benar lelaki brengsek!”

Gadis itu berlari dengan air yang mengalir dipipinya. Pikirannya sangat kacau dan yang dirasakan hanyalah rasa sakit hati. Suara gemuru petir dan cahaya kilat melengkapi kegundaannya. Dia terus berlari dengan keadaan kecewa.

Disisi lain lelaki itu memandangi kebodohannya. Hujanpun membasahi sepanjang jalanan. Dia mengingat kenangannya dengan gadis itu. Dia tahu gadis itu benci hujan. Dan dia sangat yakin gadis itu sekarang sedang ketakutan. Dia berlari menyusul gadis itu. Dia mencari ke rumahnya. Namun dia tidak menemukan gadis itu. Dia mencari ke segala tempat dan tidak juga menemukannya. Dia kembali ke tempat di mana dia telah membuat gadis itu pergi membawa kekecewaan. Dia sangat putus asa mencari gadis itu. Dia mulai berteriak sekeras-kerasnya tanpa memperdulikan kerasnya hujan.

“Tania, Kau dimana? Aku tahu kau kecewa denganku! Aku masih mencintaimu! Dengarkan suaraku tania! Aku masih ingat tentang kita berdua. Sebelum aku menikah, ku mohon tetaplah bersamaku!”
“Mengapa kau menikahi orang lain jika kau mencintaiku”
“Itu karena aku di jodohkan. Aku tidak bisa menentang ibuku. Kau sangat tahu seberapa aku mencintai ibuku. Bahkan aku rela meninggalkanmu demi ibuku. Ku mohon tania, izinkan aku bersamamu sebelum aku benar-benar harus meupakanmu”
“Aku tidak bisa membohongi diriku lagi. Aku juga mencintaimu. Tapi aku tidak terima kau meninggalkanku Alex”

            Alex memeluk tania. Dia sangat bahagia bisa memeluk tania meskipun untuk terakhir kalinya. Karena dia tidak ingin menyesal. Begitu pula dengan tania. Dia sangat mencintai Alex. Dia juga ingin menikmati waktu bersama Alex untuk yang terakhir kalinya. Karena sejauh dan selama Alex meninggalkannya, tidak ada yang bisa menggantikannya. Kebahagiaannya malam ini membuat seluruh pangdangan tania gelap. Dan yang tidak di sadari Alex adalah tania sudah lama pingsan. Melihat wajah tania yang pucat. Dia menggendong tania dan berlari membawanya pulang. Saat sampai dirumahnya, Alex bertemu dengan Shelena kakaknya tania. Shelena menyuruhnya membawa tania masuk ke dalam kamarnya. Alex membaringkan tania di tempat tidurnya.

“Apa yang terjadi dengan Tania?”
“Maafkan aku, seharusnya aku tidak membiarkannya terlalu lama di hujan”
“Apa dia ketakutan?”
“Tidak, dia bahkan menatap dan memarahiku”
“Aku rasa tugasmu selesai. Kau sudah boleh pulang, terima kasih kau sudah menyembuhkan tania dari pobianya. Kau juga harus bersiap untuk pernikahanmu besok”
“Baiklah, Jangan lupa bawa dia besok. Aku pulang”

            Keesokan harinya tania terbangun. Dia menyebut nama alex dan mencarinya. Dia tidak melihat Alex berada di kamarnya. Dia coba mengingat kejadian semalam. Dan dia sadar kalau dia pingsan dalam pelukan Alex. Dia keluar mencari Alex. Namun yang ia temui adalah Shelena. Dia yakin bahwa Shelena telah mengusir Alex. Shelena melihat tania yang sudah bangun. Dia memberikan sebuah dress kepada tania.

“Pakai itu”
“Untuk apa?”
“Bersiap-siap sajalah, kita akan ke acara pernikahan Alex”

            Tania terdiam dan dia tidak ingin melewati bagian ini. Dia harus bertemu dengan Alex. Dia tidak ingin kehilangan Alex lagi. Dia melempar dress itu dan berlari keluar. Shelena yang tidak mengerti dengan sikap tania pun mengejarnya. Tania masuk ke dalam mobil. Dan shelena juga masuk ke dalam mobil. Tania melihat tatapan shelena yang meminta penjelasan darinya. Tania tidak peduli dengan shelena. Kisah cintanya dengan Alex lebih penting daripada pertanyaan shelena. Shelena yang masih terdiam berharap tania mau memberitahunya kemana mereka akan pergi. Sepanjang perjalanan tania tetap diam. Dan dia menyetir mobil dengan sangat kencang hingga berhenti di suatu rumah yang telah berhias dan tak asing bagi shelena.

“Apa kau sudah gila? Kau datang dengan pakaian tidur ke acara pernikahan?”
“Dengar kak, aku sedang tidak membutuhkan nasehatmu sekarang. Kisah cintaku lebih penting sekarang”
“Tania, tunggu! Kau salah paham!”

            Tania masuk ke dalam rumah dan mencari sosok Alex. Dia menghampiri Alex dan sangat heran dengan tania.

“Alex dengar, ini semua tidak boleh terjadi”
“Tania, ada apa? Dan kenapa kau masih memakai baju tidur? Lebih baik kau ke ruang rias dan ganti pakaianmu”
“Untuk apa? Untuk melihat calon istrimu? Dan untuk dipermalukan oleh calon istrimu?”

            Ibu dari Alex melihat tania yang datang dengan baju tidur menghampiri tania. Dia melihat tania sedang memarahi Alex.

“Tania, apa masuk kamu nak?”
“Tante, maafkan ketidaksopanan tania. Tania tidak bisa melihat Alex menikahi wanita lain. Tania mencintai Alex tante”
“Tania, kamu sudah salah menduga. Aku ini di jodohkan dengan kamu”
“Apa? bagaimana bisa? Lalu wanita yang ada di undangan bersamamu itu siapa?”
“Tania, itu kakak yang mengeditnya. Kakak pikir dengan membuat undangan palsu itu kamu bisa melupakan Alex. Ternyata kakak salah. Waktu itu mamanya alex datang ke rumah dengan maksud melamar kamu. Karena kamu tidak ada di rumah dan kakak sudah terlanjur memberikan kamu undangan itu, jadi kakak tidak memberitahumu. Dan dress yang kakak berikan kepadamu itu  untuk calon pengantinnya”
“Lalu, alex kamu tahu dari mana?”
“Mama memberikan aku fotomu setelah pulang dari rumahmu”

            Semua orang tertawa melihat tingkah tania yang sangat malu. Tania bahagia karena tidak harus kehilangan orang yang ia cintai. Ibu nya Alex menyuruh tania untuk keruang rias dan memakai dress. Namun tania tidak mau. Dia ingin pernikahannya segera di lasanakan. Dia tidak peduli dengan pakaian tidurnya. Dia hanya mengatakan hal-hal yang tidal bisa di tentang untuk orang yang saling mencintai

“Ketika kami berdua saling mencintai satu sama lain merasakan dunia milik berdua, lalu untuk apa menikah dengan banyak model? Karena sebuah pernikahan di dasarkan atas cinta bukanlah gaya yang harus dipamerkan”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dendamku

Dahulu kau jadikan aku seorang ratu Dan mengabulkan semua pintaku Seakan ada seseorang yang meramal kehidupanku Sebagai pertanda akhir dari cintaku Kepercayaan itu telah sirna Kau yang mendustakan segalanya Dan lebih memilih dirinya  Hingga kau buang aku jauh disana Kau larut dalam kata-katanya Seolah dirimu yang paling teraniaya Bahkan, kau tatap aku dengan penuh dendam Hingga tubuhku hancur dengan kata yang menghantam Dendamku lebih membara dari padamu Seekor anjing terlihat lebih baik darimu Sayangnya, buas singa saja kalah darimu Karena ikut hanyut dalam kekejamanmu Ada satu hal yang sudah kau lupakan Sekuat apapun dirimu Angin tidak akan pernah habis dimakan Karena aku bisa lebih kejam darimu

Berteman

Bertemanlah dengan siapapun Jangan menjadi orang yang pemilih Karena Bukan teman yang menjerumuskanmu ke hal yang negatif Melainkan Dirimu Yang tidak bisa menjaga diri Dan Karena setiap manusia memiliki sisi baik dan buruknya Jangan tutup matamu untuk melihat satu hal Tetapi buka matamu untuk melihat semua pengalaman Karena baik dan buruk itu adalah pelajaran untukmu Jangan pernah kau mencari teman karena jabatan, ketenaran dan kepintaran Karena dari ketiga golongan itu selalu memiliki keunikan tersendiri Kau akan menemukan arti bahagia, kehidupan dan kekejaman Maka tiga golongan itu tak layak untuk menjadi sebuah standar Jangan pernah Mencari teman yang setara denganmu Karena Suatu saat nanti kamu akan sadar dan menyesal Tentang teman terbaik yang telah kau buang