Seorang lelaki berjalan menyusuri jalan di
tengah malam yang gelap. Dia hanya memiliki teman sang bulan. Gelapnya jalan
tanpa lampu di sekelilingnya. Dia terus saja berjalan hingga tepat di sebuah
rumah dia berhenti. Rumah itu sangat akrab bagi nya. Rumah yang dulu sering di
kunjunginya. Dan sekarang rumah itu kembali dia datangi setelah tiada kabar
mengenai dirinya. Rumah itu adalah rumah yang ditempati oleh kekasih nya.
Tangannya mulai mengarah ke arah pintu itu. Suara ketukan mulai terdengar.
Sesosok gadis membukakan pintu itu. Tampak sebuah kejutan yang ada. Raut muka
gadis itu sangat terkejut.
“ada
yang ingin aku bicarakan denganmu. Ikutlah denganku”
“Apa
yang sedang kau pikirkan? Aku sudah lama menunggumu. Dan kau tidak memberi
sepatah kata kabarpun! Dan sekarang kau kembali dengan cara seperti ini.
Sekarang apa mau mu? Apakah kau ingin mengatakan kalau dirimu telah memiliki
wanita selain diriku di hatimu? Sudah cukup! Tidak ada yang perlu di jelaskan.
Apa yang terakhir kau kirim itu cukup membuatku tertawa. Hanya bisa tertawa
melihat undangan pernikahan
kekasihku dengan wanita lain. Aku tidak ingin ikut denganmu!”
“kumohon,
ikutlah denganku. Aku hanya ingin menghabiskan waktuku hanya denganmu”
Tanpa mendengar sepatah kata yang akan di
ucapkan gadis itu, laki-laki itu menarik tangannya. Gadis itu berusaha
melepaskannya. Tetapi gadis itu tidak kuat untuk melepaskan pegangan dari
lelaki itu. Gadis itu hanya bisa menyusuri jalan berdua dengan lelaki itu.
Mereka terus berputar di jalan yang sama. Perjalanan mereka terhenti saat
lelaki itu berhenti dan berbalik menghadap kepada gadis itu. Gadis itu yang
berada di belakangnya terus berjalan dan tiba-tiba melihat mata lelaki itu.
Kemudian dia melihat wajah wanita yang ada dalam undangan itu. Undangan yang diberikan
oleh lelaki itu. Hingga mereka saling bertabrakan. Dan kembali berjalan. Mereka
tidak memperlihatkan rasa malu di raut wajah mereka. Karena mereka tidak pernah
mati gaya. Begitu lah yang terjadi sampai lelaki itu mengantarkan gadis itu
pulang ke rumahnya. Tatapan lelaki itu tidak bisa focus dengan jalannya. Dia
melihat gadis itu kedinginan. Dia melepaskan jaket nya dan mengenakan pada
gadis itu. Gadis itu mulai bertanya tentang undangan itu
“Mungkinkah
undangan yang kau kirim itu hanya untuk membuatku berpikir bahwa kau mencintai
wanita lain?”
Lelaki
itu tidak menjawab pertanyaan dari gadis itu. Tetapi gadis itu tetap ingin
bertanya.
“Mungkinkah kau sudah menjadi milik orang lain”
Gadis itu terlihat khawatir. Namun dia berusaha menutupi
kekhawatirannya. Dia menunggu jawabannya. Percuma saja, lelaki itu tidak
berbicara sepatah kata pun. Mereka berjalan tanpa ada percakapan diantara
mereka. Keheningan malam membuat udara semakin dingin. Sesekali mereka
bertatapan dan ingin memulai percakapan, tak ada yang berhasil. Kebohongan itu
adalah gaya mereka untuk tetap saling mencintai. Karena cinta tidak harus
memiliki. Tapi hal itu bukanlah melodrama di kehidupan mereka.
“Aku ingin kau hadir di acara pernikahanku”
Gadis itu menghentikan langkahnya. Dia terdiam membisu. Tubuhnya
kaku seperti mayat. Dia melepaskan jaket yang di kenakan dan melemparkannya ke
arah lelaki itu.
“Aku tidak menyangka, kau benar-benar lelaki brengsek!”
Gadis itu berlari dengan air yang mengalir dipipinya. Pikirannya
sangat kacau dan yang dirasakan hanyalah rasa sakit hati. Suara gemuru petir
dan cahaya kilat melengkapi kegundaannya. Dia terus berlari dengan keadaan
kecewa.
Disisi lain lelaki itu memandangi kebodohannya. Hujanpun membasahi
sepanjang jalanan. Dia mengingat kenangannya dengan gadis itu. Dia tahu gadis
itu benci hujan. Dan dia sangat yakin gadis itu sekarang sedang ketakutan. Dia berlari
menyusul gadis itu. Dia mencari ke rumahnya. Namun dia tidak menemukan gadis
itu. Dia mencari ke segala tempat dan tidak juga menemukannya. Dia kembali ke
tempat di mana dia telah membuat gadis itu pergi membawa kekecewaan. Dia sangat
putus asa mencari gadis itu. Dia mulai berteriak sekeras-kerasnya tanpa
memperdulikan kerasnya hujan.
“Tania, Kau dimana? Aku tahu kau kecewa denganku! Aku masih mencintaimu!
Dengarkan suaraku tania! Aku masih ingat tentang kita berdua. Sebelum aku
menikah, ku mohon tetaplah bersamaku!”
“Mengapa kau menikahi orang lain jika kau mencintaiku”
“Itu karena aku di jodohkan. Aku tidak bisa menentang ibuku. Kau sangat
tahu seberapa aku mencintai ibuku. Bahkan aku rela meninggalkanmu demi ibuku. Ku
mohon tania, izinkan aku bersamamu sebelum aku benar-benar harus meupakanmu”
“Aku tidak bisa membohongi diriku lagi. Aku juga mencintaimu. Tapi aku
tidak terima kau meninggalkanku Alex”
Alex memeluk tania. Dia sangat
bahagia bisa memeluk tania meskipun untuk terakhir kalinya. Karena dia tidak
ingin menyesal. Begitu pula dengan tania. Dia sangat mencintai Alex. Dia juga
ingin menikmati waktu bersama Alex untuk yang terakhir kalinya. Karena sejauh
dan selama Alex meninggalkannya, tidak ada yang bisa menggantikannya. Kebahagiaannya
malam ini membuat seluruh pangdangan tania gelap. Dan yang tidak di sadari Alex
adalah tania sudah lama pingsan. Melihat wajah tania yang pucat. Dia menggendong
tania dan berlari membawanya pulang. Saat sampai dirumahnya, Alex bertemu
dengan Shelena kakaknya tania. Shelena menyuruhnya membawa tania masuk ke dalam
kamarnya. Alex membaringkan tania di tempat tidurnya.
“Apa yang terjadi dengan Tania?”
“Maafkan aku, seharusnya aku tidak membiarkannya terlalu lama di hujan”
“Apa dia ketakutan?”
“Tidak, dia bahkan menatap dan memarahiku”
“Aku rasa tugasmu selesai. Kau sudah boleh pulang, terima kasih kau sudah
menyembuhkan tania dari pobianya. Kau juga harus bersiap untuk pernikahanmu
besok”
“Baiklah, Jangan lupa bawa dia besok. Aku pulang”
Keesokan harinya tania
terbangun. Dia menyebut nama alex dan mencarinya. Dia tidak melihat Alex berada
di kamarnya. Dia coba mengingat kejadian semalam. Dan dia sadar kalau dia
pingsan dalam pelukan Alex. Dia keluar mencari Alex. Namun yang ia temui adalah
Shelena. Dia yakin bahwa Shelena telah mengusir Alex. Shelena melihat tania
yang sudah bangun. Dia memberikan sebuah dress kepada tania.
“Pakai itu”
“Untuk apa?”
“Bersiap-siap sajalah, kita akan ke acara pernikahan Alex”
Tania terdiam dan dia
tidak ingin melewati bagian ini. Dia harus bertemu dengan Alex. Dia tidak ingin
kehilangan Alex lagi. Dia melempar dress itu dan berlari keluar. Shelena yang
tidak mengerti dengan sikap tania pun mengejarnya. Tania masuk ke dalam mobil. Dan
shelena juga masuk ke dalam mobil. Tania melihat tatapan shelena yang meminta
penjelasan darinya. Tania tidak peduli dengan shelena. Kisah cintanya dengan Alex
lebih penting daripada pertanyaan shelena. Shelena yang masih terdiam berharap
tania mau memberitahunya kemana mereka akan pergi. Sepanjang perjalanan tania
tetap diam. Dan dia menyetir mobil dengan sangat kencang hingga berhenti di
suatu rumah yang telah berhias dan tak asing bagi shelena.
“Apa kau sudah gila? Kau datang dengan pakaian tidur ke acara pernikahan?”
“Dengar kak, aku sedang tidak membutuhkan nasehatmu sekarang. Kisah cintaku
lebih penting sekarang”
“Tania, tunggu! Kau salah paham!”
Tania masuk ke dalam rumah
dan mencari sosok Alex. Dia menghampiri Alex dan sangat heran dengan tania.
“Alex dengar, ini semua tidak boleh terjadi”
“Tania, ada apa? Dan kenapa kau masih memakai baju tidur? Lebih baik kau ke
ruang rias dan ganti pakaianmu”
“Untuk apa? Untuk melihat calon istrimu? Dan untuk dipermalukan oleh calon
istrimu?”
Ibu dari Alex melihat
tania yang datang dengan baju tidur menghampiri tania. Dia melihat tania sedang
memarahi Alex.
“Tania, apa masuk kamu nak?”
“Tante, maafkan ketidaksopanan tania. Tania tidak bisa melihat Alex
menikahi wanita lain. Tania mencintai Alex tante”
“Tania, kamu sudah salah menduga. Aku ini di jodohkan dengan kamu”
“Apa? bagaimana bisa? Lalu wanita yang ada di undangan bersamamu itu siapa?”
“Tania, itu kakak yang mengeditnya. Kakak pikir dengan membuat undangan
palsu itu kamu bisa melupakan Alex. Ternyata kakak salah. Waktu itu mamanya
alex datang ke rumah dengan maksud melamar kamu. Karena kamu tidak ada di rumah
dan kakak sudah terlanjur memberikan kamu undangan itu, jadi kakak tidak
memberitahumu. Dan dress yang kakak berikan kepadamu itu untuk calon pengantinnya”
“Lalu, alex kamu tahu dari mana?”
“Mama memberikan aku fotomu setelah pulang dari rumahmu”
Semua orang tertawa
melihat tingkah tania yang sangat malu. Tania bahagia karena tidak harus
kehilangan orang yang ia cintai. Ibu nya Alex menyuruh tania untuk keruang rias
dan memakai dress. Namun tania tidak mau. Dia ingin pernikahannya segera di
lasanakan. Dia tidak peduli dengan pakaian tidurnya. Dia hanya mengatakan
hal-hal yang tidal bisa di tentang untuk orang yang saling mencintai
“Ketika kami berdua saling mencintai satu sama lain merasakan dunia milik
berdua, lalu untuk apa menikah dengan banyak model? Karena sebuah pernikahan di
dasarkan atas cinta bukanlah gaya yang harus dipamerkan”
Komentar
Posting Komentar